MAKNA DAN ARTI KEBANGKITAN NASIONAL DALAM PEMBANGUNAN KESEJAHTERAAN SOSIAL Penulis : Doddy Ahmad Kurtubi

Setiap bulan Mei bagi bangsa Indonesia mempunyai arti sejarah tersendiri, selain tanggal 2 Mei kita peringati Hari Pendidikan Nasional ada moment istimewa pada bulan Mei yaitu Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap tanggal 20 Mei. 

Dimulai tanggal 20 Mei 1908 sebagai tonggak bangkitnya nasionalisme Indonesia untuk melawan penjajahan di Hindia Belanda pada masa itu.  Dalam perkembangannya ada 5 (lima) tahapan nasionalisme di Indonesia yakni masa perintis (sebelum tahun 1908), masa penegas (tahun 1928), masa pencoba (tahun 1938), masa pendobrak (1945) dan masa pelaksana (1945 sampai dengan sekarang).

Kebangkitan Nasional ditandai dengan lahirnya Organisasi Budi Utomo 20  Mei 1908 oleh Dr. Wahidin Soedirohoesodo dan Dr. Soetomo, organisasi sosial intelektual ini menyatukan semangat persatuan dan kesatuan bangsa untuk mewujudkan kemerdekaan  bangsa Indonesia. Cita-cita ingin merdeka akhirnya terwujud pada tanggal 17 Agustus 1945. Hal ini menjadi bukti bahwa kemerdekaan suatu bangsa diwujudkan dengan persatuan dan kesatuan bangsa itu sendiri. 

Kebangkitan Nasional adalah bagaimana menerapkan dalam mengisi kemerdekaan dengan pembangunan disegala bidang termasuk pembangunan kesejahteraan sosial. Kebangkitan Nasional adalah untuk mengenang kembali bagaimana semangat perjuangan bangsa Indonesia tempo doeloe untuk mengisi kemerdekaan dengan berbagai kegiatan pembangunan.

Hari Kebangkitan Nasional tahun 2017 ini mengambil thema “Pemerataan Pembangunan Indonesia Yang Berkeadilan Sebagai Wujud Kebangkitan Nasional” .

Makna dari thema tersebut berfokus pada perwujudan pemerataan pembangunan menuju Indonesia yang berkeadilan dari Sabang sampai Merauke. Pemerintah sekarang ini sedang berusaha mewujudkan cita-cita tersebut, dengan Agenda Prioritas Pembangunan yang disebut Nawacita. 

Sesuai dengan 9 (sembilan) Agenda Prioritas Pembangunan (Nawacita). Pembangunan Kesejahteraan Sosial menggunakan 4 (empat) dari 9 (sembilan) Agenda Prioritas Pembangunan tersebut. 

1. Nawacita No. 3 “Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara Kesatuan.

2. Nawacita No. 5  Meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat Indonesia

3. Nawacita No.8 Melahirkan revolusi karakter bangsa.

4. Nawacita No. 9 Memperteguh Kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia.

Dengan semangat kebangkitan nasional seiring dengan perjalanan bangsa Indonesia yang sekarang dapat merasakan nikmat kemerdekaan, para pendiri bangsa sudah memikirkan cita-cita bangsa Indonesia dengan menciptakan suatu keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia yang diwujudkan dalam konsep negara kesejahteraan. Hal inilah apabila kita perhatikan dalam perkembangan Usaha Kesejahteraan Sosial di Indonesia adalah mewujudkan cita-citanya yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945, yaitu sebagai negera kesejahteraan. Tahapan ini dimulai dari memandang bagaimana nilai-nilai tradisional yang diambil dari bangsa Indonesia dalam mendukung upaya perwujudan negara kesejahteraan.

Setelah proklamasi kemerdekaan, untuk mewujudkan kegiatan dalam bidang sosial didasarkan pada keputusan Panitia Persiapan Kemerdekaan. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada masa perang kemerdekaan antara lain : penanggulangan masalah pengungsian, pemulangan bekas-bekas romusha dan heiho, rehabilitasi penderita cacat dan penanggulangan anak-anak yatim piatu serta orang-orang terlantar. Kesadaran umum masyarakat Indonesia untuk menangani masalah sosial pada masa perang kemerdekaan diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional yaitu 20 Desember 1948, sehari setelah aksi militer Belanda kedua di Yogyakarta. Waktu itu masyarakat Indonesia dimana-mana mengumpulkan bahan-bahan pokok dan mengadakan dapur umum.

Pada tahun 1960-an, usaha-usaha kesejahteraan sosial dituangkan dalam Pembangunan Nasional Semesta Berencana. Mulai tahun ini dilaksanakan usaha-usaha kemasyarakatan suku-suku terasing ditujukan kepada peningkatan kehidupan suku-suku dipedalaman yang taraf perkembangan sosial budayanya jauh tertinggal dari perkembangan masyarakat Indonesia umumnya. Usaha pelayanan terhadap mereka antara lain berupa pemukiman menetap, penyedia sarana-sarana pembinaan, dan penyuluhan serta bimbingan sosial.

Untuk perkembangan kesejahteraan sosial dalam 5 (lima) tahun  kedepan dari 2015 - 2019, sasaran srategisnya adalah :

  1. Berkontribusi menurunkan jumlah Fakir Miskin, kelompok rentan dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) lainnya sebesar 1 (satu) persen dari target rasional pada tahun 2019 melalui ;
  • Meningkatnya kemampuan keluarga miskin dan rentan serta PMKS lainnya dalam  memenuhi kebutuhan dasar.
  • Meningkatnya kemampuan penduduk miskin dan rentan, anak, penyandang disabilitas, lanjut usia dan kelompok marjinal lainnya dalam pemenuhan hak dasar dan inklusivitas.

      2. Pengembangan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) kesejahteraan sosial dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial.

  • Meningkatnya kapasitas SDM kesejahteraan sosial dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial.
  • Meningkatnya kualitas pendamping dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial.
  • Meningkatnya kapasitas kelembagaan kesejahteraan sosial dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial.

Kebangkitan Nasional untuk membangkitkan semangat pembangunan termasuk juga pembangunan kesejahteraan sosial, membangkitkan semangat memperjuangkan kesejahteraan sosial bagi kelompok PMKS.  Dan salah satu hal yang bisa menumbuhkan rasa kebangsaan adalah kebangkitan nasional, bangkit dari keterpurukan, bangkit dari ketertinggalan, bangkit dari ketidakadilan, bangkit dari kemiskinan dan kebodohan.

Kesimpulan diatas dilihat dari perspektif penyelenggaraan kesejahteraan sosial diprioritaskan kepada mereka yang memiliki kehidupan yang tidak layak secara kemanusiaan dan memiliki kriteria masalah sosial seperti; kemiskinan, ketelantaran, kecacatan, keterpencilan, ketunaan sosial dan penyimpangan perilaku,  korban bencana dan atau korban tindak kekerasan dan diskriminasi.

Referensi :

1. T. Sumarnonugroho, Sistem Intervensi Kesejahteraan Sosial, Yogjakarta PT. Hanindita (1984)

2. Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru,; Sejarah Pergerakan Nasional dari Kolonialisme  sampai  Nasionalisme Jakarta Gramedia (1990)

3. Koentjaraningrat Th System and Spirit of Gotong Royong Jakarta (1997)

 

Bookmakers bonuses with gbetting.co.uk website.